Bata dan Genteng dari Limbah Kulit Buah Ciptaan Siswa MAN 1 Medan Raih Emas di Ajang Internasional Jepang
Bata dan Genteng dari Limbah Kulit Buah Ciptaan Siswa MAN 1 Medan Raih Emas di Ajang Internasional Jepang
Tim Karya Ilmiah Remaja Madrasah Aliyah Negeri 1 Medan berhasil meraih medali emas pada ajang Japan Design, Idea and Invention Expo (JDIE) INNOPA WIIPA 2026 yang berlangsung di Kansai Airport Conference Hall, Izumisano, Osaka, Jepang, pada 3-4 Juli 2026.
Prestasi ini diraih berkat inovasi bertajuk GREEN, singkatan dari Green Resource for Eco-Friendly Engineering and Natural Construction, yang mengubah limbah kulit buah sisa Program Makan Bergizi Gratis menjadi material bangunan ramah lingkungan.
Ide cemerlang ini berawal dari keprihatinan para siswa terhadap tumpukan limbah kulit buah yang menumpuk setiap hari di lingkungan sekolah. Kulit pisang, jeruk, semangka, pepaya, dan melon yang biasanya berakhir di tempat sampah justru menjadi titik awal sebuah penemuan yang kini diakui di kancah internasional.
Tim yang beranggotakan tujuh siswa ini kemudian melakukan serangkaian percobaan selama sekitar dua bulan untuk mencari formula terbaik mengolah limbah organik menjadi material yang bernilai.
Melalui penelitian yang tekun, mereka menemukan komposisi ideal antara bubuk kulit buah dan tanah liat, ditambah semen serta perekat alami. Hasilnya, terciptalah bata dan genteng yang kuat, tahan proses pembakaran, dan mampu menahan beban hingga 80 kilogram.
Temuan ini tidak hanya menawarkan solusi bagi masalah sampah organik, tetapi juga menyediakan alternatif material bangunan yang lebih ringan dan ramah lingkungan.
Keunggulan inovasi ini tidak main-main. Dibandingkan bata konvensional, bata berbahan dasar kulit buah memiliki bobot yang lebih ringan sehingga mengurangi beban struktur bangunan.
Selain itu, material ini memiliki ketahanan terhadap air yang lebih baik dan proses produksinya mengurangi emisi karbon dibandingkan pembuatan bata konvensional yang memerlukan pembakaran intensif.
Di ajang JDIE INNOPA WIIPA 2026, tim MAN 1 Medan berkompetisi dengan ratusan peserta dari berbagai negara, termasuk Jepang, Taiwan, Korea Selatan, Kanada, Polandia, hingga Uni Emirat Arab.
Inovasi GREEN berhasil unggul berkat keunggulannya dari segi keberlanjutan lingkungan, bobot yang lebih ringan, daya tahan, serta ketahanan terhadap air.
Tim yang beranggotakan Rafa Ruzain Ahmad, Tiara Qalbi Aswani, Azka Azzahra Putri Dalimunthe, Sandria Shelba Yafizham Harahap, Ariq Zaidan Dhiaufa Siregar, Zahraa Putri Syahbana, dan Fauzul Huda ini tidak hanya membawa pulang medali, tetapi juga pengalaman berharga dalam berkompetisi di tingkat global.
Keberhasilan mereka menjadi bukti bahwa generasi muda Indonesia mampu berinovasi dan bersaing di kancah internasional.
Kepala MAN 1 Medan, Reza Faisal, menyampaikan rasa syukur atas capaian ini dan berharap prestasi tersebut dapat memotivasi siswa madrasah di seluruh Indonesia untuk terus berinovasi.
Selain telah mengantongi sertifikat Hak Kekayaan Intelektual, temuan ini diharapkan menjadi solusi berkelanjutan dalam mengurangi limbah organik sekolah sekaligus mendukung prinsip ekonomi sirkular di Indonesia.
Dengan mengubah sampah menjadi produk bernilai, inovasi ini sejalan dengan upaya global untuk mengurangi jejak karbon dan menciptakan masa depan yang lebih hijau.
Tim peneliti juga telah melakukan uji coba lebih lanjut untuk memastikan material ini dapat diproduksi dalam skala yang lebih besar. Mereka menjalin komunikasi dengan beberapa pelaku industri konstruksi untuk mengeksplorasi kemungkinan produksi massal dan komersialisasi.
Prestasi MAN 1 Medan di JDIE INNOPA WIIPA 2026 menambah deretan panjang pencapaian siswa Indonesia di ajang internasional.
Ini menjadi bukti bahwa dengan kreativitas dan kerja keras, siswa dari madrasah pun mampu menciptakan inovasi yang diakui dunia.
Keberhasilan tim MAN 1 Medan dalam menciptakan bata dari limbah kulit buah adalah pengingat bahwa solusi atas masalah lingkungan sering kali datang dari tempat yang tidak terduga.
Sampah organik yang selama ini dianggap mengganggu ternyata menyimpan potensi besar jika dikelola dengan tepat. Inovasi ini tidak hanya menjawab persoalan sampah di sekolah, tetapi juga membuka jalan bagi industri konstruksi yang lebih ramah lingkungan di Indonesia.
