MPR Goes to Campus di UIKA Bogor Dorong Perguruan Tinggi Ambil Peran Atasi Krisis Sampah Plastik
BOGOR – Program MPR Goes to Campus di Universitas Ibnu Khaldun (UIKA) Bogor menjadi momentum untuk memperkuat kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, dan masyarakat dalam menghadapi tantangan krisis iklim serta persoalan sampah plastik di Indonesia.
Dalam kegiatan tersebut, perguruan tinggi didorong untuk mengambil peran lebih aktif melalui riset, inovasi, edukasi, dan pengabdian kepada masyarakat guna menghadirkan solusi berkelanjutan bagi pengelolaan sampah.
Penguatan Kebijakan EPR Jadi Sorotan
Salah satu poin utama yang dibahas adalah pentingnya penerapan kebijakan Extended Producer Responsibility (EPR) atau Tanggung Jawab Produsen yang Diperluas. Kebijakan ini mendorong produsen bertanggung jawab terhadap kemasan produknya sejak tahap perancangan, pengumpulan kembali, hingga proses daur ulang.
Pendekatan tersebut dinilai lebih efektif dibanding hanya mengandalkan peningkatan kapasitas Tempat Pembuangan Akhir (TPA), karena mampu mengurangi timbulan sampah sejak dari sumbernya.
Penerapan EPR juga diharapkan mendorong lahirnya inovasi kemasan yang lebih ramah lingkungan, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, serta mempercepat penerapan ekonomi sirkular di Indonesia.
Perguruan Tinggi Berperan Sebagai Pusat Inovasi
Melalui MPR Goes to Campus, perguruan tinggi diharapkan menjadi pusat lahirnya berbagai inovasi teknologi dan kebijakan yang mendukung pengelolaan sampah secara berkelanjutan.
Selain menghasilkan riset ilmiah, kampus juga memiliki peran strategis dalam membangun kesadaran generasi muda mengenai pentingnya menjaga lingkungan dan mengembangkan pola konsumsi yang lebih bertanggung jawab.
Kolaborasi akademisi dengan pemerintah dan sektor industri diyakini mampu mempercepat implementasi berbagai solusi inovatif dalam pengurangan sampah plastik.
Kolaborasi Jadi Kunci Pengelolaan Sampah Berkelanjutan
Persoalan sampah merupakan tantangan nasional yang membutuhkan keterlibatan seluruh pemangku kepentingan. Sinergi antara pemerintah, perguruan tinggi, pelaku industri, dan masyarakat dinilai menjadi kunci dalam mewujudkan sistem pengelolaan sampah yang efektif dan berkelanjutan.
Melalui penguatan kebijakan, inovasi teknologi, serta peningkatan kesadaran masyarakat, Indonesia diharapkan mampu mengurangi dampak pencemaran lingkungan sekaligus mempercepat terwujudnya ekonomi sirkular yang mendukung pembangunan berkelanjutan.
