Top Komoditas Ekspor Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Semester I 2026, CPO Masih Jadi Raja

0
IMG-20260718-WA0055

Badan Karantina Indonesia (Barantin) mencatat kinerja positif perdagangan komoditas karantina sepanjang semester pertama 2026. Melalui sistem sertifikasi terpadu Best Trust (Barantin Electronic System for Transaction and Utility Service Technology), berbagai komoditas unggulan Indonesia terus menembus pasar internasional dan memberikan kontribusi terhadap nilai ekspor nasional.

Sektor tumbuhan masih menjadi salah satu penyumbang terbesar. Minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) beserta produk turunannya tercatat sebagai komoditas unggulan dengan nilai ekspor mencapai Rp32,03 triliun.

Sertifikasi ekspor CPO dan produk turunannya sepanjang Januari hingga Juni 2026 mencapai sekitar 8,6 juta ton dengan nilai ekonomi yang diperkirakan mencapai Rp38,5 triliun. Capaian tersebut semakin memperkuat posisi produk kelapa sawit sebagai salah satu komoditas strategis Indonesia di pasar global.

Kopi dan Pinang Jadi Komoditas Ekspor Unggulan

Selain CPO, komoditas tumbuhan lainnya juga menunjukkan kinerja positif. Kopi biji mencatat nilai ekspor sekitar Rp6,9 triliun, sementara pinang biji mencapai Rp2,9 triliun.

Jawa Barat menjadi salah satu wilayah dengan kontribusi besar dalam ekspor komoditas karantina tumbuhan. Nilai ekspornya tercatat mencapai Rp7,7 triliun dengan volume sekitar 304,9 juta ton.

Sejumlah komoditas menjadi andalan ekspor dari wilayah tersebut, di antaranya kakao bubuk, kelapa bulat, dan kakao pasta. Sementara itu, komoditas manggis dari Jawa Barat diproyeksikan mampu mencatat nilai ekspor hingga Rp2,5 triliun sepanjang 2026.

Data tersebut menunjukkan bahwa potensi ekspor sektor pertanian dan perkebunan Indonesia tidak hanya bertumpu pada satu komoditas. Produk hortikultura dan hasil perkebunan juga memiliki peluang besar untuk memperluas pasar apabila didukung standar mutu, keamanan, dan sertifikasi yang mampu memenuhi persyaratan negara tujuan.

Rajungan, Cumi-Cumi, Kepiting, dan Udang Jadi Andalan Perikanan

Di sektor perikanan, komoditas rajungan dan cumi-cumi menjadi salah satu produk yang berkontribusi terhadap kinerja ekspor.

Sektor karantina ikan di Jawa Barat mencatat nilai ekspor mencapai Rp1,29 triliun dengan volume sekitar 28,6 juta kilogram. Capaian tersebut menunjukkan besarnya potensi produk perikanan Indonesia untuk terus dikembangkan sebagai komoditas bernilai tambah di pasar internasional.

Kalimantan Utara juga mencatat kinerja ekspor komoditas perikanan. Pada periode Januari hingga Maret 2026, ekspor kepiting mencapai sekitar 3,44 juta ekor dengan nilai Rp88,385 miliar.

Komoditas udang windu dari wilayah yang sama juga tercatat memiliki volume ekspor sekitar 1,15 ribu ton. Udang dan tuna turut menjadi komoditas andalan sektor perikanan dan kelautan Indonesia yang memiliki permintaan tinggi di pasar global.

Besarnya potensi tersebut menunjukkan bahwa sektor perikanan Indonesia memiliki ruang pengembangan yang luas. Penguatan kualitas produk, sistem ketertelusuran, dan pemenuhan standar negara tujuan menjadi faktor penting untuk menjaga keberlanjutan ekspor.

Sarang Burung Walet hingga Daun Ketapang Tembus Pasar Global

Dari sektor hewan, sarang burung walet masih menjadi salah satu komoditas ekspor bernilai tinggi. Nilai ekspornya tercatat mencapai Rp3,6 triliun.

Sementara itu, sektor karantina hewan di Jawa Barat mencatat nilai ekspor sekitar Rp69,7 miliar dengan komoditas unggulan berupa susu sapi dan vaksin.

Tidak hanya komoditas berskala besar, produk yang dikembangkan pelaku UMKM juga mulai menunjukkan kemampuan bersaing di pasar internasional. Daun ketapang dari Bangka Belitung, misalnya, berhasil menembus pasar Amerika Serikat, Inggris, dan Jerman dengan volume ekspor sekitar 553–665 kilogram.

Produk perikanan juga terus memperluas jangkauan pasar. Ikan layur beku asal Cilacap berhasil menembus pasar Tiongkok dengan volume 25 ton dan nilai ekspor mencapai sekitar Rp764 juta.

Keberhasilan berbagai komoditas tersebut menunjukkan bahwa peluang ekspor Indonesia semakin terbuka, termasuk bagi produk-produk yang selama ini belum menjadi komoditas utama perdagangan internasional.

Barantin Perkuat Biosekuriti dan Transformasi Digital

Kepala Barantin Abdul Kadir Karding menegaskan bahwa penerapan sistem biosekuriti yang kuat tidak semata-mata menjadi kewajiban bagi pelaku usaha, tetapi juga dapat menjadi nilai tambah dalam meningkatkan daya saing produk Indonesia.

Jaminan keamanan, kesehatan, dan kualitas komoditas menjadi semakin penting dalam perdagangan global. Negara-negara tujuan ekspor umumnya menerapkan persyaratan ketat terhadap produk pertanian, perikanan, dan hewan yang masuk ke wilayah mereka.

Karena itu, sistem karantina memiliki peran strategis dalam memastikan komoditas Indonesia memenuhi persyaratan negara tujuan sekaligus melindungi sumber daya hayati nasional.

Barantin juga terus mengembangkan layanan digital dengan mengintegrasikan sistem pelayanan ke dalam National Logistic Ecosystem melalui Indonesia National Single Window. Langkah tersebut diarahkan untuk mempercepat proses pelayanan, mengurangi waktu tinggal barang di pelabuhan, serta meningkatkan efisiensi biaya logistik.

Transformasi digital di sektor karantina diharapkan dapat memberikan kepastian layanan bagi pelaku usaha sekaligus memperkuat daya saing ekspor nasional.

Kinerja ekspor sepanjang semester pertama 2026 menunjukkan bahwa Indonesia memiliki basis komoditas yang sangat beragam. Mulai dari CPO, kopi, pinang, kakao, manggis, rajungan, cumi-cumi, kepiting, udang, tuna, sarang burung walet, hingga berbagai produk UMKM, seluruhnya memiliki peluang untuk berkembang di pasar global.

Tantangan ke depan adalah memastikan pertumbuhan ekspor tersebut berjalan secara berkelanjutan dengan dukungan sistem biosekuriti yang kuat, standar mutu yang konsisten, sertifikasi yang kredibel, serta layanan logistik dan karantina yang semakin cepat dan efisien.

Dengan penguatan ekosistem tersebut, komoditas Indonesia diharapkan tidak hanya mampu meningkatkan nilai ekspor, tetapi juga memberikan dampak ekonomi yang lebih luas bagi petani, nelayan, peternak, pelaku UMKM, dan dunia usaha di berbagai daerah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *