Rizkan Al Mubarrok: Bangsa Ini Hancur Bukan Karena Kurang Orang Pintar, Tetapi Karena Kepintaran Tanpa Kejujuran
JAMBI – Ketua Aliansi Wartawan Nasional Indonesia (AWNI) Sumatera Raya, Rizkan Al Mubarrok, menilai persoalan mendasar yang dihadapi Indonesia bukan terletak pada minimnya sumber daya manusia yang cerdas, melainkan pada lunturnya nilai kejujuran dalam penggunaan ilmu pengetahuan dan kekuasaan.
Dalam pandangannya, kecerdasan yang tidak disertai integritas justru berpotensi menjadi alat yang merusak kehidupan berbangsa dan bernegara. Menurutnya, berbagai persoalan seperti korupsi, penyalahgunaan kewenangan, hingga kebijakan yang dinilai tidak berpihak kepada masyarakat lahir dari penyalahgunaan kepintaran oleh segelintir pihak.
“Negeri ini bukan dirusak oleh orang bodoh. Negeri ini dihancurkan oleh orang-orang pintar yang kehilangan rasa malu,” kata Rizkan Al Mubarrok.
Ia berpendapat bahwa kemampuan intelektual seharusnya digunakan untuk membangun keadilan, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, serta memperkuat kepercayaan publik terhadap lembaga negara. Sebaliknya, ketika kecerdasan dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi atau kelompok, dampaknya dapat dirasakan oleh masyarakat luas.
Menurut Rizkan, praktik penyimpangan tidak selalu hadir dalam bentuk tindakan yang terlihat secara kasat mata. Ia menilai berbagai persoalan dapat muncul melalui penyusunan kebijakan, pengelolaan anggaran, maupun keputusan-keputusan strategis yang tidak berpihak pada kepentingan publik.
“Kalau kepintaran menghasilkan kemiskinan massal, berarti yang bekerja bukan akal sehat, tetapi kelicikan,” ujarnya.
Rizkan juga menyoroti peran media massa dan kalangan akademisi. Ia menilai kedua elemen tersebut memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga independensi, menyampaikan kebenaran, serta memberikan kritik yang konstruktif terhadap penyelenggaraan negara.
Menurutnya, pers yang independen dan dunia akademik yang menjunjung integritas merupakan pilar penting dalam menjaga demokrasi dan mencegah penyalahgunaan kekuasaan.
Selain itu, Rizkan menolak anggapan bahwa masyarakat menjadi pihak yang harus disalahkan atas berbagai persoalan bangsa. Ia berpandangan bahwa rakyat berhak memperoleh pemerintahan yang bersih, transparan, dan akuntabel.
“Rakyat bukan bodoh. Rakyat berhak mendapatkan sistem yang adil dan pemerintahan yang berpihak kepada kepentingan publik,” katanya.
Menutup pernyataannya, Rizkan menegaskan bahwa kejujuran merupakan fondasi utama dalam membangun bangsa. Ia meyakini bahwa kecerdasan yang dipadukan dengan integritas akan melahirkan kebijakan yang berpihak kepada masyarakat, memperkuat supremasi hukum, serta menciptakan pemerintahan yang bersih.
Pernyataan tersebut merupakan pandangan pribadi Rizkan Al Mubarrok mengenai kondisi sosial, pemerintahan, dan kehidupan berbangsa, yang disampaikannya sebagai bagian dari ajakan untuk memperkuat nilai kejujuran, integritas, dan akuntabilitas dalam penyelenggaraan negara.
