RI dan Swiss Teken MoU Hilirisasi Mineral, Perkuat Investasi dan Transfer Teknologi untuk Industri Bernilai Tambah

0
IMG-20260718-WA0038

JAKARTA – Pemerintah Indonesia dan Swiss resmi menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) mengenai peningkatan kerja sama di sektor mineral dan logam sebagai langkah strategis memperkuat hilirisasi industri nasional, menarik investasi berkualitas, serta mendorong transfer teknologi.

Penandatanganan MoU berlangsung di Kantor Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, Jakarta, Kamis (16/7/2026), sekaligus menjadi bagian dari peringatan 75 tahun hubungan diplomatik Indonesia dan Swiss.

Perkuat Hilirisasi dan Nilai Tambah Industri

Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan P. Roeslani menegaskan kerja sama ini merupakan tonggak penting dalam memperkuat kemitraan kedua negara di sektor mineral dan logam.

Menurutnya, Indonesia tidak lagi berorientasi pada ekspor bahan mentah, tetapi terus mendorong hilirisasi agar sumber daya mineral mampu menghasilkan nilai tambah, menciptakan lapangan kerja berkualitas, dan meningkatkan daya saing industri nasional.

Rosan menilai Swiss merupakan mitra strategis karena memiliki keunggulan di bidang teknologi, inovasi, pembiayaan, logistik, serta akses terhadap pasar global yang dapat mendukung transformasi industri Indonesia.

Momentum 75 Tahun Hubungan Diplomatik

Penandatanganan MoU dilakukan Rosan P. Roeslani dan disaksikan Duta Besar Swiss untuk Indonesia, Timor-Leste, dan ASEAN Olivier Zehnder.

Dokumen tersebut melengkapi proses yang sebelumnya telah ditandatangani secara sirkuler oleh Presiden Konfederasi Swiss sekaligus Kepala Federal Department of Economic Affairs, Education and Research (EAER), Guy Parmelin, pada 23 Juni 2026 di Basel, Swiss.

Menurut Olivier Zehnder, kerja sama tersebut menjadi momentum bersejarah karena bertepatan dengan peringatan 75 tahun hubungan diplomatik Indonesia dan Swiss.

Ia menilai kolaborasi ini menghubungkan potensi sumber daya mineral Indonesia dengan teknologi, keahlian, serta modal yang dimiliki Swiss sehingga mampu menciptakan rantai nilai industri yang lebih kuat dan berkelanjutan.

Fokus pada Investasi dan Transfer Teknologi

MoU mencakup berbagai bidang strategis, mulai dari promosi investasi, penguatan rantai pasok mineral dan logam, pertukaran teknologi, pengembangan sumber daya manusia, hingga penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG).

Selain itu, kedua negara juga akan memperluas kerja sama dalam pengembangan teknologi ramah lingkungan (cleantech), peningkatan tata kelola industri hilir, penyelenggaraan misi bisnis, seminar, pelatihan, pameran, dan business matching.

Kerja sama ini diharapkan mampu mempercepat pembangunan industri pengolahan mineral berteknologi tinggi, termasuk mendukung pengembangan ekosistem baterai kendaraan listrik, energi terbarukan, dan industri hijau di Indonesia.

Perkuat Posisi dalam Rantai Pasok Global

MoU tersebut merupakan tindak lanjut dari Expression of Interest yang telah ditandatangani pada September 2025.

Hubungan ekonomi Indonesia dan Swiss juga semakin kuat melalui Indonesia-European Free Trade Association Comprehensive Economic Partnership Agreement (IE-CEPA) yang memberikan kepastian hukum dan mendorong peningkatan investasi kedua negara.

Selama periode 2021 hingga Triwulan I 2026, investasi Swiss di Indonesia tercatat mencapai sekitar 1,33 miliar dolar Amerika Serikat, dengan sektor utama meliputi industri makanan, transportasi dan pergudangan, telekomunikasi, serta kimia dan farmasi.

Melalui kerja sama ini, Indonesia berharap memperoleh peningkatan investasi dan transfer teknologi untuk mempercepat hilirisasi mineral nasional, sementara Swiss mendapatkan akses yang lebih luas terhadap pasokan mineral strategis yang dibutuhkan industrinya.

Kolaborasi tersebut diharapkan semakin memperkuat posisi Indonesia dan Swiss dalam rantai pasok global sekaligus menciptakan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan saling menguntungkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *