China dan Rusia Gelar Latihan Bersama Joint Sea 2026, Kapal Perang Saling Berkunjung di Qingdao

0
IMG-20260709-WA0034

RIZKAN – China dan Rusia kembali memperkuat kerja sama militer melalui latihan angkatan laut bersama “Joint Sea 2026” yang digelar di Qingdao, Provinsi Shandong, China timur. Menjelang dimulainya fase latihan di laut, kapal-kapal perang kedua negara bersandar berdampingan di pelabuhan militer Qingdao pada Rabu (8/7/2026), dengan bendera nasional masing-masing berkibar berdampingan sebagai simbol eratnya hubungan strategis kedua negara.

Dalam rangkaian kegiatan fase darat, perwira dan pelaut dari Angkatan Laut China dan Rusia saling mengunjungi kapal perang masing-masing. Kegiatan ini menjadi bagian dari tradisi internasional dalam pertukaran angkatan laut sekaligus sarana memperkuat pemahaman, membangun interoperabilitas, serta berbagi pengalaman mengenai pengoperasian sistem persenjataan dan pengelolaan kapal perang modern.

China membuka akses ke kapal perusak berpeluru kendali Kaifeng, kapal perang Tipe 052D yang dirancang dan diproduksi secara mandiri. Kapal tersebut dikenal luas sebagai “Aegis China” berkat kemampuan pertahanan udara dan sistem tempurnya yang modern. Dalam latihan Joint Sea 2026, Kaifeng bertindak sebagai kapal komando pihak China sekaligus menjadi debutnya dalam rangkaian latihan angkatan laut China-Rusia.

Sementara itu, Rusia memperkenalkan kapal penjelajah berpeluru kendali Varyag yang telah lama menjadi andalan Armada Pasifik Rusia. Kapal perang berbobot lebih dari 11.000 ton tersebut dikenal memiliki kemampuan serangan anti-kapal jarak jauh melalui sistem rudal supersonik yang terpasang di kedua sisi haluan, serta mampu menjalankan operasi secara mandiri maupun dalam gugus tugas tempur.

Selama kunjungan, para pelaut Rusia menunjukkan ketertarikan terhadap berbagai sistem persenjataan Kaifeng, termasuk sistem peluncur vertikal 64 sel dan meriam utama kapal. Personel Angkatan Laut China memberikan penjelasan teknis melalui penerjemah mengenai kemampuan operasional kapal tersebut.

Salah seorang personel pendukung Rusia menyampaikan bahwa para pelaut Rusia sangat tertarik mempelajari teknologi yang digunakan kapal perang terbaru milik China, terutama kemampuan teknis dari sistem persenjataan yang ditampilkan selama kunjungan.

Di sisi lain, personel Angkatan Laut China yang berkesempatan menaiki Varyag mengaku terkesan dengan tingkat kesiapan tempur awak Rusia. Pengamanan ketat di atas kapal, perlengkapan tempur lengkap, serta disiplin personel dinilai mencerminkan profesionalisme tinggi yang menjadi pengalaman berharga bagi kedua angkatan laut.

Fase darat latihan Joint Sea 2026 resmi berakhir pada Rabu malam. Selanjutnya, armada China dan Rusia dijadwalkan berlayar dari Pelabuhan Militer Qingdao menuju wilayah latihan di laut untuk melaksanakan berbagai skenario operasi gabungan yang telah dirancang bersama.

Sejak pertama kali digelar pada 2012, latihan Joint Sea berkembang menjadi salah satu latihan angkatan laut bilateral paling penting antara China dan Rusia. Program ini menjadi wadah memperkuat koordinasi militer, meningkatkan kemampuan operasi bersama, sekaligus memperdalam hubungan strategis kedua negara di tengah dinamika keamanan kawasan Asia-Pasifik.

Menurut pihak komando latihan, seluruh skenario operasi disusun melalui koordinasi intensif antara kedua angkatan laut agar sesuai dengan prosedur taktis masing-masing negara. Pendekatan tersebut diharapkan mampu meningkatkan efektivitas latihan sekaligus memperkuat interoperabilitas pasukan.

Keberhasilan penyelenggaraan fase darat Joint Sea 2026 menjadi fondasi penting sebelum dimulainya latihan gabungan di laut. Pertukaran personel, kunjungan kapal perang, serta pembelajaran langsung terhadap teknologi militer masing-masing negara mencerminkan semakin eratnya kerja sama pertahanan China dan Rusia.

Di tengah meningkatnya dinamika geopolitik global, latihan Joint Sea 2026 dipandang sebagai bagian dari upaya kedua negara memperkuat hubungan strategis dan meningkatkan kesiapan operasional angkatan laut. Aktivitas ini juga terus menjadi perhatian komunitas internasional karena dinilai memiliki pengaruh terhadap dinamika keamanan dan keseimbangan kekuatan di kawasan Indo-Pasifik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *