Banjir Bandang di Afghanistan Tewaskan 20 Orang, 100 Hilang di Provinsi Nuristan

0
IMG-20260722-WA0021

KABUL — Banjir bandang melanda Provinsi Nuristan di timur Afghanistan pada Senin (20/7) malam. Bencana yang dipicu hujan deras di kawasan pegunungan tersebut dilaporkan menewaskan sedikitnya 20 orang, melukai 80 lainnya, sementara sekitar 100 orang masih dinyatakan hilang.

Arus banjir yang deras menyebabkan sungai-sungai meluap dan menerjang permukiman warga di sepanjang aliran sungai. Sejumlah rumah dilaporkan hancur atau rusak parah, sementara jalan dan jembatan ikut tersapu arus sehingga memutus akses menuju sejumlah wilayah terdampak.

Medan pegunungan yang terjal dan keterbatasan akses menjadi tantangan besar bagi proses evakuasi dan pencarian korban. Tim penyelamat yang terdiri dari personel keamanan, petugas tanggap bencana, serta relawan setempat terus berupaya menjangkau desa-desa yang terisolasi akibat banjir dan longsor.

Hingga Selasa (21/7) pagi, operasi pencarian terhadap warga yang masih hilang terus dilakukan. Kondisi cuaca yang buruk, visibilitas rendah, serta medan yang sulit membuat proses penyelamatan berlangsung dengan penuh risiko. Sejumlah penerbangan bantuan dan evakuasi juga menghadapi kendala akibat kondisi cuaca di kawasan pegunungan.

Pejabat setempat memperingatkan bahwa jumlah korban dapat berubah seiring berlangsungnya proses pendataan dan pencarian. Sejumlah desa yang terdampak juga belum sepenuhnya dapat dijangkau sehingga kondisi sebenarnya di lapangan masih terus diperbarui.

Banjir bandang bukan fenomena baru bagi wilayah pegunungan Afghanistan. Namun, skala bencana kali ini menambah kekhawatiran terhadap kerentanan masyarakat yang tinggal di daerah terpencil. Hujan ekstrem, kondisi geografis, serta kerusakan lingkungan dapat memperbesar risiko banjir dan longsor di kawasan tersebut.

Bencana ini juga terjadi ketika Afghanistan masih menghadapi berbagai persoalan kemanusiaan dan ekonomi. Kerusakan infrastruktur akibat banjir semakin menyulitkan masyarakat yang membutuhkan akses terhadap makanan, air bersih, tempat tinggal, dan layanan kesehatan.

Sejumlah lembaga kemanusiaan terus memantau situasi dan risiko kesehatan pascabencana. Genangan air, buruknya sanitasi, serta keterbatasan fasilitas kesehatan dapat meningkatkan ancaman penyakit, terutama bagi warga yang terpaksa mengungsi ke tempat penampungan sementara.

Pemerintah dan organisasi kemanusiaan menghadapi tantangan besar dalam menyalurkan bantuan ke wilayah terdampak. Kondisi jalan yang rusak dan akses menuju kawasan pegunungan yang terbatas membuat distribusi logistik membutuhkan waktu lebih lama.

Di tengah operasi pencarian, warga yang selamat mulai mengungsi ke sekolah, fasilitas umum, dan bangunan yang masih dapat digunakan. Mereka membutuhkan makanan, air bersih, perlengkapan darurat, serta bantuan medis untuk menghadapi dampak bencana.

Peristiwa di Nuristan kembali menunjukkan besarnya risiko bencana alam yang dihadapi masyarakat Afghanistan, terutama mereka yang tinggal di wilayah pegunungan dan terpencil. Bagi keluarga korban dan warga yang masih menunggu kabar kerabat mereka, operasi pencarian menjadi harapan terakhir untuk menemukan mereka yang hilang.

Tim penyelamat hingga kini masih berupaya bekerja di tengah kondisi yang sulit. Harapan terbesar masyarakat adalah agar warga yang masih dinyatakan hilang dapat segera ditemukan dan bantuan kemanusiaan mampu menjangkau seluruh wilayah terdampak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *