ASEAN-ID Blue 2026 di Banyuwangi: Ekonomi Biru Berbasis Masyarakat Jadi Panggung Diplomasi Internasional

0
IMG-20260721-WA0007(1)

BANYUWANGI — Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, menjadi tuan rumah forum internasional ASEAN-ID Blue 2026 yang berlangsung pada 17–18 Juli 2026. Forum bertema “Community-Led Blue Economy: Advancing Coastal Conservation, Sustainable Livelihoods and Tourism Cooperation in ASEAN” tersebut mempertemukan perwakilan negara-negara ASEAN, negara peserta East Asia Summit (EAS), dan anggota Pacific Islands Forum (PIF) untuk bertukar pengalaman mengenai pengembangan ekonomi biru yang berkelanjutan.

Forum ini diinisiasi oleh Kementerian Luar Negeri bersama Kementerian Kelautan dan Perikanan, dengan dukungan Pemerintah Kabupaten Banyuwangi serta Kementerian Luar Negeri dan Perdagangan Selandia Baru.

Sekitar 135 peserta mengikuti rangkaian kegiatan, terdiri atas perwakilan negara-negara ASEAN, Sekretariat ASEAN, Economic Research Institute for ASEAN and East Asia (ERIA), akademisi, organisasi internasional, hingga kelompok masyarakat.

Banyuwangi dipilih sebagai lokasi penyelenggaraan karena dinilai memiliki pengalaman dalam mengembangkan pengelolaan kawasan pesisir yang berkelanjutan dengan menempatkan masyarakat sebagai bagian penting dalam penggerak ekonomi.

Staf Ahli Diplomasi Ekonomi Kementerian Luar Negeri Zelda Wulan Kartika menyampaikan bahwa praktik pengembangan ekonomi biru di Banyuwangi dapat menjadi contoh yang relevan untuk dipelajari daerah lain di Indonesia maupun negara-negara yang berpartisipasi dalam forum tersebut.

KNMP Lateng Jadi Best Practice Ekonomi Biru Berbasis Masyarakat

Salah satu agenda utama forum ASEAN-ID Blue 2026 adalah kunjungan lapangan para delegasi ke Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) Lateng di kawasan pesisir Plengsengan Ancol, Kelurahan Lateng, Banyuwangi.

Kawasan tersebut menjadi salah satu lokasi yang diperkenalkan sebagai best practice pengembangan ekonomi biru berbasis masyarakat. Para delegasi melihat secara langsung upaya pengembangan hilirisasi sektor perikanan yang dipadukan dengan aktivitas ekonomi dan wisata kuliner.

Melalui konsep tersebut, hasil tangkapan nelayan tidak hanya dijual sebagai komoditas mentah, tetapi juga diolah menjadi berbagai produk bernilai tambah. Model ini diharapkan dapat memperkuat pendapatan masyarakat pesisir sekaligus menciptakan rantai ekonomi yang lebih berkelanjutan.

KNMP Lateng dilengkapi sejumlah fasilitas pendukung, mulai dari gerai kuliner, dermaga sandar perahu, lokasi pendaratan ikan, pabrik es, workshop nelayan, hingga unit pengolahan hasil laut.

Pengembangan kawasan tersebut juga mengintegrasikan sektor perikanan, pemberdayaan masyarakat, pelestarian lingkungan, dan pariwisata. Konsep kawasan turut mengadopsi unsur arsitektur rumah adat Suku Osing yang menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat Banyuwangi.

Perpaduan antara konsep modern dan kearifan lokal tersebut memperkuat karakter kawasan pesisir sekaligus membuka peluang pengembangan destinasi wisata baru yang tetap terhubung dengan aktivitas ekonomi masyarakat.

Delegasi Internasional Tertarik dengan Model Banyuwangi

Pengembangan KNMP Lateng mendapat perhatian dari para delegasi internasional yang mengikuti forum. Perwakilan Fiji, Leone Bainivanua, menyampaikan apresiasinya terhadap kawasan tersebut dan menilai konsep yang dikembangkan dapat menjadi inspirasi untuk diterapkan di negaranya.

Staf Ahli Diplomasi Ekonomi Kementerian Luar Negeri Zelda Wulan Kartika juga menilai praktik ekonomi biru di Banyuwangi memiliki nilai penting karena manfaatnya dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat nelayan dan komunitas pesisir.

Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani mengatakan bahwa penyelenggaraan ASEAN-ID Blue 2026 menjadi cerminan komitmen daerah dalam mengembangkan kawasan pesisir dengan menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, keberlanjutan lingkungan, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Menurutnya, forum internasional tersebut juga membuka ruang bagi Banyuwangi untuk bertukar pengalaman sekaligus memperluas jejaring kerja sama dengan negara-negara ASEAN dan mitra internasional lainnya.

Ekonomi Biru Indonesia Didorong Jadi Model Kolaborasi Regional

Forum ASEAN-ID Blue 2026 menjadi momentum untuk memperkuat kolaborasi antara pemerintah, akademisi, mitra pembangunan, sektor swasta, dan masyarakat pesisir dalam mendukung implementasi ASEAN Blue Economy Framework serta ASEAN Blue Economy Implementation Plan 2026–2030.

Kunjungan delegasi ke KNMP Lateng dan Bangsring Underwater memperlihatkan bagaimana gagasan ekonomi biru dapat diterjemahkan ke dalam praktik yang melibatkan masyarakat secara langsung.

Bagi Indonesia, pengalaman Banyuwangi menunjukkan bahwa pengembangan ekonomi biru tidak hanya berkaitan dengan pemanfaatan sumber daya kelautan, tetapi juga mencakup konservasi lingkungan, penguatan mata pencaharian masyarakat pesisir, hilirisasi produk perikanan, pengembangan pariwisata berkelanjutan, dan pelestarian kearifan lokal.

Dengan demikian, ASEAN-ID Blue 2026 tidak sekadar menjadi forum pertukaran gagasan, tetapi juga menjadi ruang diplomasi untuk memperkenalkan praktik pembangunan ekonomi biru Indonesia kepada komunitas internasional. Banyuwangi pun menempatkan pengalaman masyarakat pesisir sebagai bagian dari narasi kerja sama regional menuju ekonomi biru yang lebih inklusif, berkelanjutan, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *