Pertemuan Menteri Kesehatan BRICS Perdana di Chandigarh, Angkat Tema ‘Health Without Borders’
CHANDIGARH — Pertemuan Menteri Kesehatan BRICS ke-16 resmi dimulai di Chandigarh, India, pada Rabu (22/7/2026). Forum yang berlangsung selama tiga hari ini mengangkat tema “Building for Resilience, Innovation, Cooperation and Sustainability” atau membangun ketahanan, inovasi, kerja sama, dan keberlanjutan dalam menghadapi berbagai tantangan kesehatan global.
Pertemuan tersebut menjadi momentum penting bagi BRICS setelah keanggotaan kelompok negara berkembang itu diperluas menjadi 11 negara. Perluasan tersebut semakin memperkuat posisi BRICS sebagai salah satu forum kerja sama utama negara-negara Global South dalam membahas persoalan strategis, termasuk kesehatan masyarakat dan ketahanan sistem kesehatan.
Salah satu agenda utama dalam rangkaian pertemuan adalah konferensi tingkat tinggi bertajuk “Health Without Borders”. Agenda tersebut menghadirkan 26 sesi teknis yang mempertemukan menteri, pembuat kebijakan, pakar kesehatan masyarakat, peneliti, serta perwakilan negara-negara peserta.
Pembahasan mencakup sejumlah isu strategis, mulai dari penguatan keamanan kesehatan, kesiapsiagaan menghadapi pandemi, transformasi kesehatan digital, pemerataan akses terhadap layanan kesehatan berkualitas, hingga pengembangan pengobatan tradisional, komplementer, dan integratif atau Traditional, Complementary and Integrative Medicine (TCIM).
India yang menjadi Ketua BRICS 2026 turut memperkenalkan dua fokus baru dalam agenda kesehatan kelompok tersebut, yakni Misi BRICS untuk Gaya Hidup Sehat dan Promosi Kesejahteraan Mental. Kedua agenda tersebut menekankan pentingnya pendekatan preventif dan promotif untuk meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat.
Sesi tingkat menteri yang dijadwalkan berlangsung pada Kamis (23/7) akan membahas berbagai prioritas kesehatan global. Pertemuan tersebut juga dijadwalkan menghasilkan Deklarasi Menteri Kesehatan BRICS ke-16 yang diharapkan menjadi dasar penguatan kolaborasi antarnegara anggota dalam menghadapi tantangan kesehatan lintas batas.
Salah satu perkembangan penting dalam forum tersebut adalah pembentukan kelompok kerja khusus yang berfokus pada pengobatan tradisional, komplementer, dan integratif. Inisiatif yang diusulkan India ini diarahkan untuk memperkuat kerja sama antarnegara BRICS dalam penelitian, validasi klinis, pertukaran pengetahuan, pemanfaatan teknologi digital, harmonisasi regulasi, serta perlindungan pengetahuan tradisional.
Kesepakatan mengenai Kerangka Acuan atau Terms of Reference bagi Kelompok Kerja Ahli BRICS tentang TCIM dinilai menjadi langkah penting dalam membangun kerja sama yang lebih terstruktur di bidang tersebut. Partisipasi delegasi dari 21 negara juga menunjukkan meningkatnya perhatian internasional terhadap potensi pengobatan tradisional dan integratif dalam sistem kesehatan modern.
Pertemuan ini diikuti oleh 11 negara anggota BRICS, yakni Brasil, Rusia, India, Tiongkok, Afrika Selatan, Mesir, Etiopia, Iran, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Indonesia. Dengan komposisi tersebut, BRICS menjadi forum yang memiliki cakupan demografis dan ekonomi yang besar dalam percaturan global.
Kehadiran Menteri Kesehatan Iran Mohammad-Reza Zafarqandi turut menjadi perhatian dalam forum tersebut. Ia dijadwalkan melakukan sejumlah pertemuan bilateral dengan negara anggota BRICS untuk membahas peluang peningkatan kerja sama kesehatan, termasuk bahan baku farmasi, teknologi kesehatan, serta peralatan medis.
Kerja sama kesehatan juga menjadi bagian dari diplomasi antarnegara anggota. Pertukaran pengetahuan, pengembangan kapasitas, serta akses terhadap teknologi dan produk kesehatan dinilai memiliki peran penting dalam memperkuat ketahanan sistem kesehatan, khususnya bagi negara-negara berkembang.
Pada hari ketiga, Jumat (24/7), agenda akan dilanjutkan dengan dialog tingkat tinggi bertajuk “BRICS Dialogue: From Digital Health Records to AI-Enabled Healthcare”. Forum ini akan membahas perkembangan rekam medis digital, interoperabilitas infrastruktur data kesehatan, serta pemanfaatan kecerdasan buatan secara bertanggung jawab dalam pelayanan kesehatan.
Transformasi digital menjadi salah satu isu yang semakin penting dalam tata kelola kesehatan global. Pemanfaatan data kesehatan yang terintegrasi dan teknologi kecerdasan buatan berpotensi membantu meningkatkan efisiensi layanan, memperkuat deteksi dini penyakit, serta mendukung pengambilan keputusan berbasis data.
Namun, perkembangan tersebut juga membutuhkan tata kelola yang kuat. Perlindungan data pribadi, keamanan siber, etika penggunaan kecerdasan buatan, dan kesetaraan akses terhadap teknologi menjadi sejumlah tantangan yang harus diperhatikan oleh negara-negara peserta.
Melalui rangkaian pertemuan di Chandigarh, BRICS berupaya memperkuat kerja sama kesehatan lintas negara sekaligus mendorong agenda kesehatan global yang lebih inklusif. Pendekatan tersebut mencakup kesiapsiagaan pandemi, inovasi teknologi, kesehatan digital, pengobatan tradisional, serta penguatan sistem kesehatan yang berkelanjutan.
Forum ini juga menunjukkan semakin besarnya perhatian BRICS terhadap isu kesehatan sebagai bagian dari agenda strategis Global South. Dengan melibatkan negara-negara dari berbagai kawasan, kerja sama yang dibangun diharapkan dapat memperluas pertukaran pengetahuan dan memperkuat kapasitas masing-masing negara dalam menghadapi ancaman kesehatan yang tidak mengenal batas wilayah.
Pada akhirnya, hasil pertemuan di Chandigarh akan menjadi salah satu indikator penting mengenai arah kerja sama kesehatan BRICS ke depan. Implementasi deklarasi dan kesepakatan yang dihasilkan akan menentukan sejauh mana forum tersebut mampu menerjemahkan komitmen politik menjadi program konkret yang memberikan manfaat bagi masyarakat di negara-negara anggotanya maupun komunitas global secara lebih luas.
