Kemenpora Dorong Sport Tourism Jadi Penggerak Ekonomi Baru, MotoGP Mandalika Hasilkan Rp4,9 Triliun

0
IMG-20260718-WA0061(2)

Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) terus memperkuat ekosistem sport tourism atau pariwisata berbasis olahraga sebagai salah satu sumber pertumbuhan ekonomi baru Indonesia. Pemerintah menilai olahraga tidak lagi dapat dipandang semata sebagai sektor yang membutuhkan dukungan anggaran, tetapi juga sebagai industri yang mampu menciptakan pendapatan, membuka lapangan kerja, menggerakkan sektor pariwisata, sekaligus memperkuat citra Indonesia di panggung internasional.

Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah membangun ekosistem olahraga nasional yang lebih mandiri dan produktif. Kemenpora kini memiliki Deputi Bidang Sport Tourism dan Hubungan Internasional yang diarahkan untuk memperkuat posisi industri olahraga dan sport tourism sebagai salah satu penggerak ekonomi nasional.

Sport Tourism Dinilai Punya Potensi Ekonomi Besar

Potensi ekonomi pariwisata olahraga di tingkat global dinilai sangat besar. Sektor ini disebut mampu menghasilkan nilai ekonomi hingga hampir 625 miliar dolar AS atau sekitar Rp9.800 triliun, dengan pertumbuhan sekitar 8 persen setiap tahun.

Besarnya potensi tersebut menjadi peluang bagi Indonesia untuk mengembangkan berbagai destinasi olahraga yang memadukan kompetisi, pariwisata, budaya, dan ekonomi kreatif. Strategi itu dinilai relevan dengan agenda pemerintah dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional yang lebih tinggi.

Salah satu contoh keberhasilan sport tourism di Indonesia terlihat dari penyelenggaraan MotoGP Mandalika di Nusa Tenggara Barat. Pada penyelenggaraan 2025, ajang balap motor kelas dunia tersebut mencatat jumlah penonton mencapai 140.324 orang dan memberikan dampak ekonomi nasional sekitar Rp4,96 triliun.

Dampak ekonomi juga dirasakan langsung di daerah. Perputaran ekonomi di Nusa Tenggara Barat sebagai tuan rumah disebut mencapai kisaran Rp2 triliun hingga Rp4 triliun. Kegiatan tersebut melibatkan lebih dari 600 pelaku UMKM dan sekitar 3.000 tenaga kerja lokal.

Penyelenggaraan MotoGP juga dinilai memberikan efek lanjutan terhadap pertumbuhan investasi di sekitar kawasan Mandalika, termasuk pembangunan vila, restoran, serta berbagai atraksi wisata yang mendukung ekosistem pariwisata di Kabupaten Lombok Tengah.

Mandalika dan Efek Berganda bagi Ekonomi Daerah

Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika menjadi salah satu kawasan yang diproyeksikan memperoleh manfaat besar dari pengembangan sport tourism. Kawasan tersebut menargetkan realisasi investasi sebesar Rp4,43 triliun pada 2025.

Dampak ekonomi kawasan juga tercermin dari penyerapan tenaga kerja. Data yang disampaikan menunjukkan penyerapan tenaga kerja mencapai 430.437 orang pada 2023. Secara keseluruhan, Mandalika disebut telah menarik investasi lebih dari Rp6 triliun dan menyerap lebih dari 26.000 tenaga kerja.

Angka-angka tersebut menunjukkan bahwa penyelenggaraan event olahraga berskala internasional tidak hanya memberikan dampak pada saat pertandingan berlangsung. Aktivitas olahraga dapat menjadi pemicu tumbuhnya sektor pendukung, mulai dari akomodasi, transportasi, kuliner, UMKM, ekonomi kreatif, hingga investasi properti dan destinasi wisata.

Dengan demikian, keberhasilan sport tourism sangat bergantung pada kemampuan pemerintah dan pemangku kepentingan dalam menciptakan ekosistem yang terintegrasi, bukan sekadar menyelenggarakan pertandingan atau kompetisi.

104 Ajang Maraton Libatkan 10,4 Juta Pelari

Potensi sport tourism juga terlihat dari perkembangan olahraga lari maraton. Indonesia disebut telah menggelar 104 ajang maraton di berbagai daerah dengan total keterlibatan mencapai sekitar 10,4 juta pelari.

Berbagai ajang tersebut memberikan efek ekonomi bagi daerah penyelenggara. Tingkat hunian hotel meningkat, pelaku usaha lokal memperoleh tambahan pasar, sementara sektor transportasi, kuliner, perdagangan, dan ekonomi kreatif ikut merasakan dampaknya.

Sejumlah daerah yang sebelumnya bukan merupakan tujuan wisata utama bahkan dapat mengalami peningkatan kunjungan ketika menjadi lokasi penyelenggaraan event olahraga. Pada akhir pekan ketika lomba berlangsung, pemesanan kamar hotel dan aktivitas ekonomi lokal dapat meningkat seiring kedatangan peserta serta wisatawan pendamping.

Fenomena tersebut memperlihatkan bahwa sport tourism dapat menjadi instrumen pemerataan ekonomi. Event olahraga yang dirancang secara berkelanjutan berpotensi membawa aktivitas ekonomi ke berbagai daerah, tidak hanya terkonsentrasi di destinasi wisata yang sudah populer.

Pemerintah Perkuat Ekosistem Olahraga Nasional

Untuk memastikan potensi tersebut dapat berkembang secara berkelanjutan, Kemenpora terus mendorong penguatan ekosistem olahraga melalui berbagai kebijakan. Langkah tersebut mencakup deregulasi, pengembangan beasiswa bagi student athlete, perhatian terhadap masa depan atlet melalui skema dana pensiun, serta peningkatan kolaborasi dengan sektor swasta dalam pembangunan infrastruktur olahraga.

Kolaborasi lintas kementerian juga menjadi bagian penting dalam strategi tersebut. Kemenpora bersama Kementerian Pariwisata terus melakukan pendataan dan pemetaan agenda olahraga berskala besar yang akan berlangsung di Indonesia hingga 2029.

Pendekatan ini diperlukan agar penyelenggaraan event olahraga dapat dirancang sebagai bagian dari kalender pariwisata nasional. Dengan perencanaan yang lebih terintegrasi, setiap ajang olahraga diharapkan mampu memberikan dampak ekonomi yang lebih luas dan berkelanjutan.

Setidaknya terdapat lima faktor penting yang menjadi fondasi pengembangan sport tourism, yakni kualitas sumber daya manusia, kekayaan budaya daerah, keindahan alam, kesiapan infrastruktur, serta dukungan regulasi dan kebijakan pemerintah.

Kelima aspek tersebut perlu berjalan secara bersamaan. Event olahraga kelas dunia tidak akan memberikan dampak maksimal apabila tidak didukung konektivitas transportasi, akomodasi yang memadai, promosi destinasi, keterlibatan UMKM, serta kepastian regulasi bagi investor dan penyelenggara.

Pada akhirnya, pengembangan sport tourism bukan hanya tentang mendatangkan atlet dan penonton. Lebih jauh, sektor ini dapat menjadi strategi pembangunan ekonomi yang menghubungkan olahraga dengan pariwisata, ekonomi kreatif, investasi, UMKM, tenaga kerja, dan promosi destinasi Indonesia.

Dengan sinergi lintas sektor dan perencanaan jangka panjang, olahraga diharapkan mampu menjadi salah satu mesin pertumbuhan ekonomi sekaligus memperkuat posisi Indonesia di mata dunia. Sport tourism dan prestasi olahraga juga telah ditempatkan sebagai bagian dari agenda pembangunan nasional.

Potensi yang masih terbuka luas membuat sport tourism dipandang sebagai salah satu instrumen strategis untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Tantangannya kini adalah memastikan setiap event olahraga mampu meninggalkan warisan ekonomi yang nyata bagi masyarakat dan daerah, sehingga olahraga tidak berhenti sebagai tontonan, tetapi berkembang menjadi industri yang produktif dan berkelanjutan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *