Masih Adakah Pemimpin seperti Umar bin Khattab? Ketika Kenyang di Tengah Rakyat yang Kelaparan Disebut Pengkhianatan

0
1787252935584-1

JAMBI, RIZKAN – Sebuah ungkapan yang populer dinisbatkan kepada Umar bin Khattab menggambarkan prinsip kepemimpinan yang sangat kuat: seorang pemimpin tidak boleh merasa nyaman ketika rakyat yang menjadi tanggung jawabnya sedang menderita.

Jabatan bukan sekadar kedudukan untuk mendapatkan penghormatan, fasilitas, atau kekuasaan. Di balik sebuah jabatan terdapat amanah besar untuk memastikan masyarakat yang dipimpin dapat hidup dengan layak dan bermartabat.

Ungkapan tentang seorang pemimpin yang merasa tidak pantas kenyang ketika masih ada rakyatnya yang kelaparan menjadi gambaran tentang betapa dekatnya seorang pemimpin dengan penderitaan rakyat.

Jabatan Adalah Amanah, Bukan Sekadar Kenyamanan

Kalimat “jika ada rakyatku yang kelaparan, sementara aku kenyang” tidak hanya dapat dimaknai secara harfiah.

“Kenyang” juga dapat menjadi simbol kenyamanan, kemakmuran, fasilitas, dan berbagai privilese yang dinikmati seseorang ketika berada di pusat kekuasaan.

Persoalannya muncul ketika kenyamanan tersebut membuat seorang pemimpin semakin jauh dari kehidupan masyarakat.

Seorang pemimpin mungkin menerima laporan bahwa kondisi masyarakat baik-baik saja. Namun, laporan dan angka tidak selalu mampu menggambarkan kehidupan manusia secara utuh.

Di balik statistik terdapat keluarga yang kesulitan membeli makanan, anak-anak yang membutuhkan pendidikan, masyarakat yang belum memperoleh pekerjaan, warga yang kesulitan mendapatkan layanan kesehatan, serta mereka yang masih berjuang memenuhi kebutuhan dasar.

Karena itu, pemimpin tidak cukup hanya memastikan program telah dibuat. Ia harus memastikan bahwa kebijakan tersebut benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat.

Ketika Kekuasaan Kehilangan Kepekaan

Makna paling dalam dari ungkapan tersebut terletak pada tanggung jawab moral seorang pemimpin.

Pemimpin disebut mengkhianati amanah bukan hanya ketika melakukan korupsi atau melanggar hukum, tetapi juga ketika kekuasaan membuatnya kehilangan kepekaan terhadap penderitaan masyarakat.

Kekuasaan yang seharusnya menjadi sarana pelayanan dapat berubah menjadi sarana menikmati privilese apabila pemimpin hanya memikirkan kenyamanan dirinya sendiri.

Dalam konteks kehidupan modern, pertanyaan tersebut menjadi semakin relevan.

Ketika pejabat menikmati berbagai fasilitas sementara sebagian masyarakat masih kesulitan memenuhi kebutuhan dasar, ketika pembangunan terlihat megah tetapi masih ada wilayah yang tertinggal, atau ketika kebijakan dibuat tanpa mendengar suara masyarakat terdampak, maka muncul pertanyaan besar tentang sejauh mana kepemimpinan benar-benar berpihak kepada rakyat.

Tidak Harus Miskin, tetapi Jangan Kehilangan Empati

Kepemimpinan yang adil bukan berarti seorang pemimpin harus hidup dalam kemiskinan atau tidak boleh menikmati kehidupan yang layak.

Seorang pemimpin tetap berhak mendapatkan fasilitas sesuai aturan dan tanggung jawab jabatannya.

Namun, kenyamanan tersebut tidak boleh membuatnya kehilangan sensitivitas terhadap penderitaan masyarakat.

Pemimpin yang baik tidak hanya bertanya, “Berapa banyak pembangunan yang sudah dilakukan?”

Ia juga bertanya:

“Siapa yang masih tertinggal?”

“Siapa yang belum makan?”

“Siapa yang belum mendapatkan pekerjaan?”

“Siapa yang belum memperoleh layanan dasar?”

“Dan apa yang sudah kami lakukan untuk mereka?”

Di situlah kepemimpinan berubah dari sekadar administrasi menjadi tanggung jawab kemanusiaan.

Ukuran Pemimpin Bukan Tingginya Kursi Kekuasaan

Sebuah jabatan mungkin memberikan seseorang kekuasaan untuk memerintah, tetapi jabatan tidak otomatis memberikan kemuliaan.

Kemuliaan seorang pemimpin justru terlihat dari bagaimana ia menggunakan kekuasaan untuk melindungi masyarakat, terutama mereka yang paling lemah.

Ukuran keberhasilan seorang pemimpin bukan hanya seberapa tinggi ia berdiri di atas rakyatnya, tetapi seberapa jauh ia bersedia turun untuk memahami kehidupan rakyat yang dipimpinnya.

Jangan sampai kursi kekuasaan membuat seseorang lupa bahwa di bawah kursi tersebut ada manusia yang kehidupannya dipengaruhi oleh setiap keputusan yang ia ambil.

Pada akhirnya, pertanyaan yang paling sederhana sekaligus paling berat adalah:

“Apakah kenyamananku dibangun dengan mengabaikan penderitaan orang lain?”

Pertanyaan itu tidak hanya ditujukan kepada pemimpin negara, tetapi kepada siapa pun yang memegang amanah dan memiliki tanggung jawab terhadap kehidupan orang lain.

Lalu, di tengah kehidupan politik dan pemerintahan hari ini, masih adakah pemimpin yang benar-benar merasa gelisah ketika rakyatnya menderita?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *