BRIN Matangkan N219 dan N219A untuk Ambulans Udara, Dukung Gagasan Dokter Terbang Prabowo

0
1787251704799

JAKARTA, RIZKAN – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) merespons gagasan Presiden Prabowo Subianto mengenai pengembangan ambulans udara dan dokter terbang dengan mematangkan ekosistem pesawat nasional N219 beserta varian amfibinya, N219A.

Pengembangan teknologi tersebut menjadi bagian dari upaya menyiapkan kemampuan kedirgantaraan nasional untuk mendukung layanan kesehatan, evakuasi pasien, hingga logistik medis di wilayah yang sulit dijangkau.

Gagasan tersebut disampaikan Presiden Prabowo saat memberikan Pengantar/Keterangan Pemerintah atas RUU tentang APBN 2027 beserta Nota Keuangan pada 14 Agustus 2026.

“Untuk itu kita juga akan membuat ambulans udara dengan helikopter dan pesawat kecil yang bisa mendarat di lapangan rumput, lapangan pasir, dan bisa mendarat di pinggir sungai, supaya tidak ada rakyat kita yang tidak bisa dievakuasi kalau dia sakit,” ujar Prabowo.

N219 Bisa Operasi di Landasan Pendek

N219 dinilai memiliki karakteristik yang sesuai untuk mendukung konsep ambulans udara karena dilengkapi teknologi Short Take-Off and Landing (STOL).

Teknologi tersebut memungkinkan pesawat beroperasi dari landasan yang relatif pendek sehingga dapat menjadi pilihan untuk menjangkau wilayah yang tidak memiliki bandar udara dengan fasilitas besar.

Kemampuan tersebut berpotensi mendukung evakuasi medis dari daerah terpencil yang selama ini menghadapi kendala geografis dan keterbatasan akses menuju fasilitas kesehatan.

Sementara itu, BRIN juga mengembangkan N219A sebagai varian amfibi yang dirancang untuk dapat melakukan lepas landas dan pendaratan di wilayah perairan.

Kemampuan tersebut membuka peluang pemanfaatan pesawat untuk menjangkau kawasan kepulauan dan daerah yang memiliki keterbatasan akses transportasi darat.

PUNA MALE Disiapkan untuk Pemantauan dan Logistik

Selain pesawat berawak, BRIN turut mengembangkan Pesawat Udara Nirawak (PUNA) MALE.

Pesawat nirawak tersebut dirancang memiliki kemampuan terbang hingga 24 jam secara nonstop dengan jangkauan kendali Beyond Line of Sight (BLOS) mencapai 2.000 kilometer.

Teknologi PUNA MALE dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan strategis, termasuk pemantauan wilayah serta mendukung distribusi logistik darurat pada masa mendatang.

Pengembangan berbagai platform tersebut menunjukkan bahwa pemanfaatan teknologi kedirgantaraan nasional tidak hanya diarahkan untuk kepentingan pertahanan dan pemantauan, tetapi juga dapat mendukung pelayanan publik.

Percepat Evakuasi Pasien di Wilayah Terpencil

Jika pengembangan teknologi tersebut berjalan sesuai rencana, integrasi pesawat nasional dengan sistem layanan kesehatan dapat membantu memangkas waktu tempuh pasien menuju fasilitas kesehatan.

Konsep ambulans udara dan dokter terbang juga dinilai relevan bagi Indonesia yang memiliki wilayah geografis luas, kepulauan, serta banyak daerah yang sulit dijangkau melalui jalur darat.

Pengembangan tersebut sekaligus dapat menjadi momentum untuk mengoptimalkan pendidikan dokter spesialis kedokteran penerbangan agar dapat bersinergi lebih erat dengan sistem kesehatan nasional.

Dengan dukungan teknologi pesawat, tenaga medis, dan sistem evakuasi yang terintegrasi, layanan kesehatan di daerah terpencil diharapkan dapat semakin cepat, aman, dan merata.

Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya membangun kemandirian teknologi nasional sekaligus memastikan masyarakat di wilayah terpencil tetap memiliki akses terhadap layanan kesehatan yang memadai.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *