Pengangguran Pemuda China Capai 15,8 Persen, Fenomena Sewa Kantor Pura-pura Kerja Muncul
BEIJING — Tingkat pengangguran pemuda di China kembali menjadi sorotan setelah angka pengangguran perkotaan kelompok usia 16 hingga 24 tahun dilaporkan mencapai 15,8 persen. Kondisi tersebut menggambarkan ketatnya persaingan di pasar tenaga kerja China sekaligus tekanan sosial yang dihadapi generasi muda ketika sulit mendapatkan pekerjaan.
Fenomena tersebut dilaporkan South China Morning Post (SCMP) pada Minggu (13/7/2026). Di tengah sulitnya memperoleh pekerjaan, muncul layanan yang menawarkan tempat bagi orang-orang yang ingin menjalani rutinitas seolah-olah sedang bekerja di kantor.
Layanan tersebut disebut tersedia di sejumlah kota di China dan menyasar sebagian pengangguran yang ingin menyembunyikan kondisi sebenarnya dari keluarga maupun orang-orang terdekat.
Sewa Kantor hingga Rp67.890 per Hari
Salah satu layanan yang disorot berada di Provinsi Hubei. Penyedia jasa menawarkan tempat yang dapat digunakan untuk menjalani aktivitas layaknya bekerja di kantor, lengkap dengan ruang kerja dan makan siang.
Biayanya disebut sekitar 29,9 yuan per hari atau setara dengan sekitar Rp67.890 berdasarkan kurs yang dicantumkan dalam laporan. Pengguna dapat berada di lokasi tersebut selama jam kerja, mulai sekitar pukul 10.00 hingga 17.00 waktu setempat.
Konsep tersebut menjadi pilihan bagi sebagian orang yang merasa tertekan karena kehilangan pekerjaan dan tidak ingin kondisi tersebut diketahui keluarga. Dengan datang ke tempat sewaan pada pagi hari dan pulang pada sore hari, mereka dapat mempertahankan rutinitas yang menyerupai kehidupan pekerja kantoran.
Ada pula layanan dengan tarif lebih tinggi, sekitar 50 yuan atau sekitar Rp113.150, yang menawarkan pengalaman berbeda. Pengguna dapat berpose sebagai seorang “bos”, duduk di kursi kantor dan mengambil foto yang kemudian dapat digunakan untuk meyakinkan orang lain bahwa mereka masih memiliki pekerjaan atau menjalankan bisnis.
Layanan semacam itu disebut tidak hanya menawarkan tempat untuk menghabiskan waktu, tetapi juga menjadi ruang sosial bagi orang-orang yang sedang menghadapi situasi sulit akibat kehilangan pekerjaan.
Tekanan Sosial di Balik Fenomena Pura-pura Kerja
Fenomena ini memperlihatkan bahwa persoalan pengangguran tidak hanya berkaitan dengan aspek ekonomi, tetapi juga memiliki dimensi sosial dan psikologis.
Salah seorang pengguna layanan yang disebut dalam laporan adalah Jiawei, mantan pekerja sektor e-commerce dari Hangzhou. Setelah perusahaan tempatnya bekerja bangkrut, ia menghabiskan waktu mencari pekerjaan dan mengirimkan lamaran.
Jiawei mengaku bahwa kondisi menganggur membuatnya mengalami tekanan. Namun, ia tidak ingin membawa kekhawatiran tersebut ke dalam keluarganya.
Dengan menjalani rutinitas seperti pekerja kantoran, ia tetap berangkat dan pulang pada waktu yang menyerupai jam kerja normal. Dalam beberapa kesempatan, ia bahkan pulang lebih larut untuk menciptakan kesan seolah-olah masih memiliki kesibukan pekerjaan.
Rutinitas tersebut menjadi cara bagi sebagian pengangguran untuk menjaga harga diri sekaligus mengurangi tekanan sosial yang muncul ketika kehilangan pekerjaan.
Kasus serupa juga dialami Chen, mantan pekerja industri semikonduktor berusia 29 tahun dari Hubei. Setelah kehilangan pekerjaan sekitar 2024, ia memilih untuk tidak langsung memberi tahu pacarnya mengenai kondisi tersebut.
Keputusan menyembunyikan status pengangguran itu menunjukkan adanya tekanan sosial yang dirasakan sebagian masyarakat ketika menghadapi kehilangan pekerjaan. Kekhawatiran akan dianggap gagal, mengecewakan keluarga, atau kehilangan kepercayaan dari orang-orang terdekat dapat membuat seseorang memilih untuk menyembunyikan kondisi sebenarnya.
Pengangguran Pemuda Jadi Tantangan Ekonomi China
Tingkat pengangguran pemuda menjadi salah satu tantangan penting yang dihadapi perekonomian China. Persaingan memperoleh pekerjaan semakin ketat ketika pertumbuhan ekonomi melambat dan sejumlah perusahaan melakukan efisiensi maupun pengurangan tenaga kerja.
Bagi kelompok usia muda, kondisi tersebut dapat menjadi lebih kompleks karena mereka berada pada fase awal memasuki dunia kerja. Kesulitan mendapatkan pekerjaan pertama dapat memengaruhi kondisi ekonomi, kepercayaan diri, hingga hubungan sosial dengan keluarga dan lingkungan sekitar.
Fenomena sewa kantor untuk pura-pura bekerja menunjukkan bagaimana tekanan ekonomi dapat melahirkan respons sosial yang tidak biasa. Bagi sebagian orang, tempat tersebut mungkin menjadi sekadar ruang untuk menjaga rutinitas. Namun, di baliknya terdapat persoalan yang lebih mendalam mengenai stigma terhadap pengangguran dan tekanan untuk terlihat berhasil di tengah lingkungan sosial.
Kondisi ini sekaligus menjadi pengingat bahwa angka pengangguran tidak selalu menggambarkan seluruh dampak sosial yang muncul. Di balik statistik, terdapat individu yang menghadapi tekanan untuk memenuhi ekspektasi keluarga, mempertahankan citra sosial, dan tetap terlihat produktif meski sedang berjuang mencari pekerjaan.
Ke depan, penyelesaian persoalan pengangguran pemuda China akan sangat bergantung pada kemampuan pemerintah dan sektor swasta dalam menciptakan lapangan kerja yang berkualitas, memperkuat pelatihan keterampilan, serta membuka peluang ekonomi baru bagi generasi muda.
Jika tekanan di pasar tenaga kerja terus berlanjut, fenomena “pura-pura kerja” berpotensi menjadi gejala sosial yang semakin menarik perhatian. Namun, solusi jangka panjang bukanlah sekadar menyediakan ruang untuk berpura-pura bekerja, melainkan memastikan setiap orang memiliki kesempatan nyata untuk memperoleh pekerjaan yang layak, membangun masa depan, dan menjalani kehidupan tanpa harus menyembunyikan kondisi ekonominya dari orang-orang terdekat.
