Populasi Orangutan Sumatera Turun 2.700 Individu dalam Satu Dekade, Ekosistem Leuser Jadi Benteng Terakhir
Populasi orangutan sumatera (Pongo abelii) diperkirakan mengalami penurunan sekitar 2.700 individu dalam satu dekade terakhir. Penurunan tersebut setara dengan 19,5 persen dari populasi yang berada dalam wilayah pembanding yang sama, berdasarkan hasil survei komprehensif yang dilakukan pada periode 2021 hingga 2023.
Temuan ini menjadi peringatan serius bagi upaya konservasi salah satu primata endemik Indonesia yang berstatus terancam punah. Orangutan sumatera merupakan spesies kunci dalam ekosistem hutan tropis Sumatera dan memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekologis, termasuk membantu penyebaran biji berbagai jenis tumbuhan di habitatnya.
Penelitian tersebut dilakukan dengan menyusuri sekitar 208 jalur sarang orangutan yang mencakup hampir seluruh habitat orangutan sumatera di Pulau Sumatera. Hasil riset kemudian dipublikasikan dalam jurnal ilmiah internasional Global Ecology and Conservation pada 20 Juni 2026 melalui penelitian berjudul “Population Status of Sumatran and Tapanuli Orangutans: A Comprehensive Assessment 2021–2023”.
Riset tersebut dipimpin oleh Adhi N. Hadi dan Julius P. Siregar bersama sejumlah peneliti dari Indonesia, Inggris, dan Jerman. Para peneliti menggunakan metode yang sama dengan survei sebelumnya yang dilakukan pada 2011 untuk mendapatkan perbandingan populasi dalam wilayah yang dapat diukur secara konsisten.
Hasil perbandingan menunjukkan populasi orangutan sumatera di wilayah pembanding diperkirakan turun dari sekitar 13.846 individu pada 2011 menjadi 11.146 individu pada 2023. Dengan demikian, terdapat penurunan sekitar 2.700 individu dalam periode satu dekade atau rata-rata sekitar 225 individu setiap tahun.
Penurunan Populasi Orangutan Sumatera Jadi Alarm Konservasi
Angka penurunan sebesar 19,5 persen dalam satu dekade menjadi alarm bagi masa depan orangutan sumatera. Jika tekanan terhadap habitat dan populasi tidak segera dikendalikan, keberadaan spesies ini di alam liar akan menghadapi ancaman yang semakin serius.
Salah satu kawasan yang menjadi tumpuan utama kelangsungan hidup orangutan sumatera adalah Ekosistem Leuser. Berdasarkan hasil penelitian, sekitar 84 persen populasi orangutan sumatera berada di kawasan Leuser Barat dan Leuser Timur.
Kawasan Leuser Barat diperkirakan menjadi habitat bagi sekitar 4.935 individu, sedangkan Leuser Timur menampung sekitar 4.926 individu. Konsentrasi populasi tersebut menunjukkan bahwa Ekosistem Leuser memiliki posisi yang sangat strategis dalam menjaga keberlangsungan orangutan sumatera.
Salah satu wilayah penting lainnya adalah kawasan rawa gambut Trumon-Singkil. Penelitian mencatat kawasan tersebut memiliki kepadatan orangutan sumatera sekitar 1,18 individu per kilometer persegi, menjadikannya salah satu habitat penting dengan kepadatan populasi orangutan sumatera yang tinggi.
Kondisi tersebut sekaligus memperkuat urgensi perlindungan terhadap kawasan hutan dan ekosistem gambut yang menjadi habitat alami orangutan. Kerusakan pada kawasan-kawasan tersebut berpotensi memberikan dampak langsung terhadap keberlangsungan populasi orangutan sumatera dalam jangka panjang.
Kerusakan Habitat dan Perburuan Masih Jadi Ancaman
Penurunan populasi orangutan sumatera tidak dapat dilepaskan dari berbagai tekanan terhadap habitat dan kehidupan satwa liar. Konversi hutan menjadi perkebunan, perambahan kawasan, kebakaran hutan dan lahan, serta fragmentasi habitat menjadi sejumlah faktor yang dapat mempersempit ruang hidup orangutan.
Hilangnya tutupan hutan juga berdampak terhadap ketersediaan sumber makanan dan pohon yang digunakan orangutan untuk beraktivitas dan membuat sarang. Ketika habitat semakin terfragmentasi, orangutan dapat terpaksa berpindah ke wilayah yang lebih terbatas dan berpotensi meningkatkan konflik dengan manusia.
Selain kehilangan habitat, perburuan dan perdagangan satwa liar juga menjadi ancaman yang harus mendapat perhatian serius. Orangutan yang masih hidup di alam dapat menjadi korban perburuan, sementara anak orangutan juga berisiko diperdagangkan secara ilegal setelah induknya dibunuh.
Konflik antara manusia dan orangutan juga dapat terjadi ketika satwa memasuki kawasan perkebunan atau lahan pertanian untuk mencari sumber makanan. Kondisi tersebut membutuhkan penanganan yang mengutamakan keselamatan manusia sekaligus perlindungan terhadap satwa yang dilindungi.
Perlindungan Ekosistem Leuser Jadi Kunci
Upaya menyelamatkan orangutan sumatera membutuhkan perlindungan habitat yang konsisten dan berbasis data. Pemerintah, peneliti, lembaga konservasi, serta masyarakat lokal perlu memperkuat kerja sama untuk memastikan kawasan habitat utama orangutan tetap terlindungi.
Ekosistem Leuser menjadi salah satu prioritas utama karena kawasan tersebut menampung sebagian besar populasi orangutan sumatera yang masih tersisa. Perlindungan terhadap Leuser bukan hanya menyelamatkan orangutan, tetapi juga menjaga rumah bagi berbagai satwa liar lain yang terancam, termasuk harimau sumatera, gajah sumatera, dan badak sumatera.
Data hasil survei juga menunjukkan pentingnya pemantauan populasi secara berkala. Informasi mengenai jumlah dan persebaran orangutan dapat menjadi dasar bagi pemerintah dan pemangku kepentingan dalam menyusun strategi konservasi yang lebih tepat sasaran.
Penurunan sekitar 2.700 individu dalam satu dekade menjadi pengingat bahwa konservasi orangutan sumatera membutuhkan tindakan nyata dan berkelanjutan. Perlindungan hutan, pencegahan perburuan dan perdagangan ilegal, penanganan konflik manusia-satwa, serta pelibatan masyarakat sekitar kawasan konservasi menjadi bagian penting dari upaya tersebut.
Masa depan orangutan sumatera sangat bergantung pada kemampuan manusia menjaga habitat yang tersisa. Ekosistem Leuser sebagai benteng utama harus dipertahankan agar populasi orangutan tidak terus mengalami penurunan.
Menyelamatkan orangutan sumatera bukan hanya tentang melindungi satu spesies. Upaya tersebut merupakan bagian dari tanggung jawab menjaga hutan Sumatera dan seluruh keanekaragaman hayati yang bergantung pada ekosistemnya.
Jika tren penurunan populasi tidak segera ditekan, ancaman terhadap keberlangsungan orangutan sumatera akan semakin besar. Karena itu, hasil penelitian terbaru ini harus menjadi momentum untuk memperkuat kebijakan konservasi dan meningkatkan kesadaran publik bahwa kehilangan setiap individu orangutan merupakan kehilangan besar bagi ekosistem Indonesia.
Menjaga Ekosistem Leuser berarti menjaga rumah bagi orangutan sumatera dan berbagai spesies lainnya. Dengan perlindungan habitat yang kuat, penegakan hukum terhadap kejahatan satwa liar, serta kolaborasi pemerintah dan masyarakat, masih ada peluang untuk menghentikan penurunan populasi dan memastikan orangutan sumatera tetap hidup di hutan-hutan Sumatera untuk generasi mendatang.
