S&P Global Ratings Afirmasi Peringkat Utang Indonesia BBB dengan Outlook Stabil, Proyeksi Ekonomi Tumbuh 5,1 Persen pada 2026

0
IMG-20260715-WA0034

JAKARTA – Lembaga pemeringkat internasional S&P Global Ratings kembali mengafirmasi Sovereign Credit Rating Republik Indonesia pada level BBB untuk jangka panjang dan A-2 untuk jangka pendek dengan outlook stabil. Keputusan tersebut disampaikan melalui publikasi Research Update bertajuk “Indonesia Ratings Affirmed At ‘BBB/A-2’; Outlook Stable” yang menegaskan Indonesia tetap berada dalam kategori investment grade.

Afirmasi tersebut menjadi sinyal positif bagi perekonomian nasional di tengah ketidakpastian global yang dipengaruhi tensi geopolitik, volatilitas harga komoditas, serta kondisi keuangan internasional yang masih ketat. S&P menilai fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat dengan didukung prospek pertumbuhan yang solid, kebijakan makroekonomi yang prudent, serta rasio utang pemerintah dan utang luar negeri yang relatif rendah dibandingkan negara-negara sekelas.

Dalam laporannya, S&P memproyeksikan ekonomi Indonesia mampu tumbuh sekitar 5 persen per tahun dalam beberapa tahun mendatang. Pertumbuhan ekonomi riil diperkirakan mencapai 5,1 persen pada 2026 dengan rata-rata 4,9 persen pada periode 2026–2029. Proyeksi tersebut didukung oleh peningkatan belanja pemerintah, konsumsi domestik yang tetap kuat, serta percepatan investasi di berbagai sektor strategis.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan bahwa afirmasi ini merupakan bentuk kepercayaan dunia internasional terhadap arah kebijakan ekonomi Indonesia. Menurutnya, pemerintah berhasil menjaga pertumbuhan ekonomi tetap berada di kisaran lima persen sekaligus mempertahankan disiplin fiskal dengan defisit APBN di bawah batas 3 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Komitmen menjaga defisit fiskal di bawah tiga persen menjadi salah satu faktor utama yang menopang outlook stabil Indonesia. S&P menilai konsistensi pemerintah dalam menjalankan disiplin fiskal telah memperkuat kredibilitas kebijakan ekonomi sekaligus meningkatkan kepercayaan investor terhadap pengelolaan keuangan negara.

Kinerja penerimaan negara juga memperoleh apresiasi. Pendapatan negara pada lima bulan pertama 2026 tercatat tumbuh sekitar 19 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Peningkatan tersebut didorong oleh membaiknya administrasi perpajakan, kenaikan penerimaan Pajak Pertambahan Nilai (PPN), serta meningkatnya royalti dan dividen dari sektor sumber daya alam.

S&P turut memberikan perhatian terhadap langkah pemerintah dalam memperkuat tata kelola sektor sumber daya alam melalui pembentukan PT Danantara Sumberdaya Indonesia. Kebijakan tersebut dinilai berpotensi meningkatkan transparansi, mengurangi praktik penghindaran pajak seperti miss-invoicing dan transfer pricing, serta memperkuat posisi eksternal Indonesia dalam jangka panjang.

Di sektor keuangan, S&P menilai sistem perbankan Indonesia tetap berada dalam kondisi sehat. Risiko terhadap sektor keuangan dinilai terkendali dengan tingkat aset perbankan yang masih relatif rendah terhadap PDB. Bank Indonesia juga dinilai berhasil menjaga stabilitas inflasi dan mempertahankan independensi kebijakan moneter sehingga mendukung stabilitas ekonomi nasional.

Ke depan, S&P menyatakan peluang kenaikan peringkat utang Indonesia masih terbuka apabila pemerintah mampu memperkuat indikator fiskal dan eksternal. Beberapa faktor yang menjadi perhatian antara lain penyempitan defisit anggaran mendekati 2 persen PDB, peningkatan penerimaan negara secara berkelanjutan, biaya pembiayaan yang lebih rendah, serta stabilitas nilai tukar rupiah.

Pemerintah menegaskan akan terus menjaga konsistensi implementasi kebijakan ekonomi, memperkuat reformasi struktural, serta menciptakan iklim investasi yang kondusif. Dengan fondasi ekonomi yang tetap kuat dan kepercayaan investor yang terjaga, afirmasi peringkat BBB dengan outlook stabil menjadi modal penting bagi Indonesia untuk menarik investasi, mempercepat pembangunan, dan menjaga momentum pertumbuhan ekonomi di tengah dinamika global.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *