Lalu Lintas Kapal Selat Hormuz Mulai Pulih, Arab Saudi Kirim 10 Juta Barel Minyak ke Pasar Asia
RIZKAN – Lalu lintas kapal di Selat Hormuz mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan setelah tercapainya kesepakatan sementara antara Amerika Serikat dan Iran yang meredakan ketegangan di kawasan Timur Tengah. Jalur pelayaran strategis yang menjadi salah satu urat nadi perdagangan energi dunia itu kembali dilalui lebih banyak kapal, meski aktivitasnya masih berada di bawah kondisi normal sebelum konflik.
Pada akhir Juni 2026, sebanyak 78 kapal tercatat melintasi Selat Hormuz dalam sehari, menjadi angka harian tertinggi sejak pecahnya konflik. Jumlah tersebut diperkirakan telah mencapai sekitar 57 persen dari rata-rata lalu lintas harian sebelum perang.
Meski demikian, berbagai lembaga pemantau mencatat proses pemulihan masih berlangsung tidak merata. Beberapa data menunjukkan jumlah kapal yang melintas pada hari-hari tertentu masih berkisar antara 27 hingga 43 kapal, jauh di bawah rata-rata normal sebelum konflik yang mencapai sekitar 84 kapal per hari.
Sejumlah analis menilai pemulihan jalur pelayaran internasional ini masih tergolong rapuh. Pasalnya, sejumlah persoalan mendasar antara Amerika Serikat dan Iran, termasuk isu pengayaan uranium, pencabutan sanksi, hingga jaminan keamanan pelayaran, belum sepenuhnya diselesaikan. Selain itu, laporan mengenai insiden terhadap kapal komersial pada akhir Juni turut membuat pelaku industri pelayaran dan energi masih bersikap hati-hati.
Di tengah membaiknya situasi, Arab Saudi mulai meningkatkan ekspor minyak mentah melalui Selat Hormuz. Sedikitnya lima kapal tanker berukuran Very Large Crude Carrier (VLCC) diberangkatkan dari Pelabuhan Ras Tanura dengan total muatan diperkirakan mencapai sekitar 10 juta barel minyak mentah. Sebagian besar pengiriman tersebut ditujukan ke pasar Asia, termasuk China dan Jepang.
Tidak hanya Arab Saudi, Kuwait juga meningkatkan produksi minyaknya secara signifikan. Produksi minyak negara tersebut dilaporkan mencapai sekitar 1,65 juta barel per hari sepanjang Juni 2026, meningkat tajam dibandingkan sekitar 580 ribu barel per hari pada Mei.
Pemerintah Amerika Serikat menyatakan optimistis terhadap perkembangan tersebut. Wakil Presiden AS JD Vance menyebut arus pengiriman minyak melalui Selat Hormuz telah kembali mendekati tingkat sebelum konflik berlangsung.
Meski demikian, para pengamat menilai pemulihan penuh baru dapat tercapai apabila seluruh persoalan geopolitik di kawasan berhasil diselesaikan secara permanen. Kepastian keamanan jalur pelayaran tetap menjadi faktor utama yang akan menentukan kelancaran distribusi minyak dunia, stabilitas harga energi global, serta kepercayaan perusahaan pelayaran internasional dalam mengoperasikan armadanya melalui Selat Hormuz.
