Jeniusnya Maqolah KH Ma’ruf Amin: “Ber-NU Harus dengan Bashirah, Bukan dengan Bisyarah”
JAKARTA, RIZKAN – Wakil Presiden ke-13 RI, KH Ma’ruf Amin, menyampaikan sebuah pesan yang mengundang perenungan di kalangan pengurus dan warga Nahdlatul Ulama (NU).
Dalam peluncuran buku karyanya, KH Ma’ruf Amin menyampaikan sebuah maqolah singkat namun sarat makna:
“Ber-NU harus dengan bashirah, bukan dengan bisyarah.”
Kalimat tersebut dapat dimaknai sebagai ajakan agar seseorang berkhidmat di NU bukan semata karena faktor keuntungan material, tetapi berdasarkan pemahaman, kesadaran, ilmu, serta komitmen terhadap nilai-nilai yang menjadi landasan organisasi.
Ber-NU dengan Bashirah
Bashirah secara umum berkaitan dengan pandangan yang mendalam, pemahaman, kesadaran, dan kemampuan melihat persoalan dengan dasar ilmu serta pertimbangan yang matang.
Dalam konteks ber-NU, pesan tersebut dapat dipahami sebagai dorongan agar warga dan pengurus NU tidak sekadar mengikuti arus atau menjalankan aktivitas organisasi karena identitas dan kebiasaan.
Pengabdian kepada organisasi perlu dibangun di atas pemahaman terhadap fikrah, manhaj, dan harakah NU.
Fikrah berkaitan dengan cara berpikir yang moderat atau tawassuth. Manhaj berkaitan dengan metode dan sistem yang menjadi pedoman dalam mengambil keputusan. Sementara harakah berkaitan dengan gerakan yang diarahkan untuk menghadirkan kemaslahatan bagi umat dan masyarakat.
Dengan demikian, ber-NU dengan bashirah berarti memahami apa yang diperjuangkan, mengerti landasan gerakan, serta memiliki kesadaran mengapa seseorang memilih untuk berkhidmat.
Jangan Menjadikan Bisyarah sebagai Alasan Berorganisasi
Pesan KH Ma’ruf Amin juga dapat dibaca sebagai kritik terhadap sikap pragmatis dalam kehidupan organisasi.
Dalam pemaknaan yang berkembang di lingkungan pesantren, istilah “bisyarah” terkadang digunakan secara kelakar untuk merujuk pada pemberian, amplop, ongkos, atau insentif material.
Jika aktivitas organisasi semata-mata digerakkan oleh keuntungan materi, maka komitmen seseorang berpotensi mudah berubah ketika kepentingan tersebut tidak lagi terpenuhi.
Organisasi pun berisiko kehilangan ruh pengabdian apabila aktivitasnya lebih banyak didorong oleh kepentingan pribadi daripada kepentingan umat.
Sebaliknya, seseorang yang berorganisasi dengan kesadaran dan pemahaman yang kuat akan lebih mampu menjaga komitmennya meskipun menghadapi perubahan situasi politik, ekonomi, maupun dinamika internal organisasi.
Kritik yang Disampaikan dengan Kalimat Sederhana
Kekuatan pesan tersebut terletak pada kalimat yang singkat dan mudah diingat, tetapi membuka ruang perenungan yang luas.
“Ber-NU dengan bashirah, bukan dengan bisyarah” dapat menjadi pengingat bahwa organisasi sebesar NU membutuhkan kader yang tidak hanya hadir secara jumlah, tetapi juga memiliki kualitas pemikiran, integritas, dan komitmen pengabdian.
Kuantitas anggota memang penting bagi sebuah organisasi. Namun, jumlah yang besar tidak akan cukup apabila tidak diiringi kualitas kader dan kekuatan nilai.
Pada akhirnya, pesan tersebut mengajak warga Nahdliyin untuk bertanya kepada diri sendiri: apakah pengabdian kepada NU lahir dari pemahaman dan kecintaan terhadap nilai perjuangan, atau justru karena adanya keuntungan yang ingin diperoleh?
Ber-NU dengan bashirah diharapkan melahirkan kader yang memiliki pendirian, memahami nilai perjuangan, dan tidak mudah dibeli oleh kepentingan politik maupun ekonomi.
Sementara itu, jika organisasi hanya dijalankan karena kepentingan material, komitmen akan lebih mudah goyah ketika kepentingan tersebut berhenti.
Pesan KH Ma’ruf Amin tersebut pun dapat menjadi bahan otokritik bagi seluruh pengurus dan warga NU dalam memasuki perjalanan abad kedua organisasi.
