Dua Prajurit TNI Turunkan Bendera Bulan Bintang di Aceh, Dapat Kenaikan Pangkat Luar Biasa

0
1787251324385

BANDA ACEH, RIZKAN – Tentara Nasional Indonesia (TNI) memberikan kenaikan pangkat luar biasa kepada dua prajurit yang dinilai berani menjalankan tugas saat menurunkan bendera Bulan Bintang dan menggantinya dengan bendera Merah Putih di Banda Aceh pada 15 Agustus 2026.

Kedua prajurit tersebut adalah Serda Irfan Farhan dari Yonif 112/Dharma Jaya dan Prada Donni Pinto Harahap dari Yonarmed 17.

Irfan Farhan kini mendapatkan kenaikan pangkat menjadi Sersan Satu (Sertu), sedangkan Donni Pinto Harahap naik pangkat menjadi Prajurit Satu (Pratu).

Dinilai Melampaui Panggilan Tugas

Kapuspen TNI Mayjen TNI Muhammad Nas mengatakan kenaikan pangkat luar biasa tersebut diberikan sebagai bentuk penghargaan kepada kedua prajurit yang dinilai melaksanakan tugas melebihi panggilan tugas pokok.

“Kenaikan pangkat luar biasa ini diberikan kepada prajurit yang dinilai melaksanakan tugas melebihi panggilan tugas pokok,” kata Muhammad Nas di Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur, Kamis (20/8/2026).

Menurut Kapuspen, tindakan kedua prajurit tersebut dinilai mencerminkan keberanian dan patriotisme serta nilai-nilai keprajuritan yang berlandaskan Pancasila, Sapta Marga, Sumpah Prajurit, dan 8 Wajib TNI.

Kenaikan pangkat tersebut sekaligus menjadi bentuk apresiasi pimpinan TNI terhadap prajurit yang menunjukkan prestasi dalam menjalankan tugas negara.

TNI Pastikan Situasi Aceh Kondusif

Muhammad Nas berharap penghargaan tersebut dapat menjadi motivasi bagi seluruh prajurit TNI untuk terus memberikan pengabdian terbaik dalam menjaga kedaulatan dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Di sisi lain, Kapuspen TNI memastikan kondisi Aceh setelah insiden tersebut telah kembali kondusif.

TNI, Polri, dan pemerintah daerah terus melakukan koordinasi untuk memastikan keamanan dan ketertiban di wilayah Aceh tetap terjaga.

Kapuspen juga mengimbau masyarakat agar tidak menyebarkan informasi bohong atau berita yang belum terverifikasi karena dapat menimbulkan keresahan dan kekhawatiran di tengah masyarakat.

“Aceh adalah Indonesia,” pungkas Muhammad Nas.

Dikutip dari: Elshinta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *