Depresi Tropis Berpotensi Menguat di Laut China Selatan, Asia Tenggara Waspada Cuaca Ekstrem

0
IMG-20260707-WA0018

JAKARTA – Kawasan Asia Tenggara diimbau meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem menyusul prediksi pembentukan depresi tropis di Laut China Selatan pada awal Juli 2026. Otoritas meteorologi memperkirakan sistem tekanan rendah yang berkembang di kawasan tersebut berpotensi memicu angin kencang, gelombang tinggi, hingga hujan lebat di sejumlah wilayah.

Badan Meteorologi dan Hidrologi Vietnam melaporkan adanya sistem tekanan rendah yang terpantau di sebelah timur Filipina dan diperkirakan bergerak menuju Laut China Selatan. Sistem tersebut memiliki peluang sekitar 80 hingga 85 persen untuk berkembang menjadi depresi tropis.

Selain itu, peluang sistem tersebut meningkat menjadi badai tropis atau topan diperkirakan mencapai 60 hingga 65 persen apabila kondisi atmosfer dan suhu permukaan laut tetap mendukung proses penguatannya.

Apabila terbentuk, sistem ini diperkirakan menjadi badai tropis pertama yang berkembang di Laut China Selatan pada musim topan 2026.

Dampak cuaca ekstrem diperkirakan mulai dirasakan sepanjang 1 hingga 7 Juli 2026. Wilayah utara dan tengah Laut China Selatan bagian timur berpotensi mengalami angin berkekuatan level 5 hingga 6 yang dapat meningkat seiring perkembangan sistem cuaca.

Sementara itu, perairan dari Khanh Hoa hingga Ca Mau serta wilayah selatan Laut China Selatan diperkirakan mengalami angin barat daya berkekuatan level 6, dengan hembusan mencapai level 7 hingga 8. Gelombang laut diperkirakan mencapai ketinggian antara 2 hingga 3 meter sehingga berpotensi mengganggu aktivitas pelayaran dan perikanan.

Selain ancaman di wilayah perairan, sejumlah daerah di Vietnam bagian utara, termasuk Provinsi Thanh Hoa, diperkirakan berpotensi mengalami hujan lebat pada 4 hingga 7 Juli 2026. Kondisi tersebut meningkatkan risiko terjadinya banjir bandang, tanah longsor, petir, serta angin puting beliung di beberapa kawasan.

Perkembangan sistem cuaca ini diperkirakan turut memengaruhi kondisi atmosfer di sejumlah wilayah Asia Tenggara. Oleh karena itu, masyarakat, nelayan, operator pelayaran, serta pelaku transportasi laut diimbau untuk terus memantau informasi resmi dari otoritas meteorologi di masing-masing negara sebelum melakukan aktivitas di wilayah perairan.

Meningkatnya frekuensi cuaca ekstrem dalam beberapa tahun terakhir juga menjadi pengingat pentingnya sistem peringatan dini yang efektif dan koordinasi lintas negara dalam upaya mengurangi risiko bencana hidrometeorologi.

Pakar meteorologi menilai kesiapsiagaan pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat menjadi faktor utama dalam meminimalkan potensi kerugian jiwa maupun material apabila sistem cuaca tersebut berkembang menjadi badai tropis yang lebih kuat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *